First of all, I would like to introduce my self. My short name is :

Nĭ hăo! Wŏ jiào My Surya. Wŏ shì yìn ní rén. Wŏ shì xué shēng. Wŏ xiĕ xìn. Xiè xiè.

12.7.12

Bagaimana Penulis Merangkai Kata?


Dia. Adalah teman yang aku kenal semenjak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, setelah kami sama-sama menyadari, bahwa kami bersama untuk saling memotivasi. Sehingga, apabila ada salah seorang dari kami yang terbuai hari, kembali ada yang menyampaikan seuntai motivasi. Karena semenjak awal, kami telah sama-sama berjanji. Bahwa apapun yang terjadi, genggaman tangan kami perlu lebih kuat lagi. Saat selangkah saja kami terhenti, maka kami mungkin saja akan tidak dapat bersapa lagi. Karena, memang begitu adanya. 

Setiap kami perlu melanjutkan perjuangan yang sedang kami upaya. Seiring perjalanan waktu, kami berjuang dengan semangat yang tinggi. Dari masa ke masa, kami bergerak, berjalan, dan kadang berlari. Saling menebarkan senyuman dalam proses yang sedang kami tempuh, seringkali kami lakukan. Buat apa lagi, kalau bukan untuk berbagi.

Berbagi? Yes! Walaupun kami baru saling mengenal semenjak beberapa tahun yang lalu, belum genap sepuluh tahun. Adapun usia kebersamaan yang benar-benar kami hayati, pun masih balita. Kami masih belajar berjalan, apabila kita mengibaratkannya dengan seorang anak manusia. Tertatih, merangkak, bergerak dalam menempuh kehidupan bersama, sukses kami jalankan. Walaupun tak selalu, apa yang kami inginkan menjadi kenyataan. Karena kami mempunyai selera yang berbeda.

Pada satu sisi, salah seorang dari kami inginkan berpanas-panas di bawah teriknya mentari siang hari. Pada lain sisi, ada diantara kami yang ingin berteduh sejenak di bawah rindangnya pepohonan yang terdapat pada sisi-sisi jalan yang sedang kami tempuhi. Sedangkan kami adalah diri yang satu. Tentu tidak dapat kita pisahkan setiap waktu. Perlu kerelaan seorang untuk membahagiakan bagian dirinya yang lain.

Walaupun kami seringkali terlibat dalam pertidaksamaan pemikiran, namun kami terus upaya untuk mengetahui perbedaan tersebut. Hingga akhirnya, keputusan terbaik pun kami cetuskan.

Sebelum salah satu bertindak. Kami perlu memahami satu sama lain. Agar langkah-langkah yang kami ayunkan, senantiasa sejalan. Sedangkan gerakan tangan yang melenggang menjadi lebih ringan. Alangkah indahnya saling memahami dengan sesama sahabat yang pengertian.

Seringkali perhatian mencurah diantara kami. Saat salah seorang mengalami nuansa yang berlainan dengan biasanya, segera yang lainnya memberikan pertolongan. Ya, karena kami mempunyai alasan mengapa melakukan hal ini.  Bukankah dengan saling membantu, kita dapat mencapai tujuan dengan lebih mudah?

Tidak terasa, sudah sekian lama kami bersama. Kebersamaan yang kami abadikan dalam lembaran catatan demi catatan. Beraktivitas dengan sepenuh hati, untuk menjalani kehidupan ini. Tersenyum bersama, saling menebarkan kebahagiaan.  Menangis pun tidak jarang bersama, untuk sama-sama merasakan pesona yang berbeda. Sedangkan keberadaan kami di dalam lingkungan,  pun atas persetujuan bersama. Kami bergerak bersama-sama, saling menguatkan.

Kami memang berbeda. Satu pendiam, satunya seringkali bercuap-cuap mensuarakan apa yang ia ingin suarakan. Namun tidak tertutup kemungkinan, kami sama-sama berceloteh dengan riang dalam banyak hari. Karena, si penyuara sangat mudah mengendalikan temannya yang lain. Katanya untuk menghibur dan menarik perhatian. Ya, akhirnya si pendiam pun mengambil tindakan. Ia  turut ambil bagian, berperan dengan diamnya.

Tidak selalu, seorang yang pendiam menjadi pendiam. Apabila ia berteman dengan seorang yang suka bersuara, maka terlihatlah perubahan pada dirinya. Karena walau seorang adanya, teman sangat berpengaruh terhadap perkembangan kita. Apalagi dengan seringkali bersama. Maka, teman tentu saja memperhatikan bagaimana cara temannya bersikap. Yang baik ia ikuti dan teladani. Sedangkan untuk sikap yang  belum sesuai dengan karakternya, maka ia dengan indahnya berpaling. Tentu saja, tanpa menyulitkan teman.

Keakraban yang kami bangun, terus bertambah kuat. Kini, kami sedang memelihara kebun keikhlasan dengan menanam bunga senyuman. Lalu, merawat, memupuknya dan menyirami agar bunga subur dan bersemi. Ketika  musimnya nanti, kami dapat menyaksikan bagaimana keindahan alami kelopak bunga yang berwarna-warni. Kami ingin menjadikannya sebagai tempat terelok yang kami pandangi. Sebuah kebun yang senantiasa kami tata dengan sepenuh hati. 

Walaupun memang, cuaca tidak selamanya sejuk dan adem. Ada kalanya hujan turun membasahi bumi, mentari bersinar kuat dan terik. Kami segera berjaga-jaga, agar bunga-bunga yang kami tanam, terus mendapat perhatian.  Karena kami, tinggal di wilayah beriklim tropis. Sesekali hujan, terkadang panas, teduh dan begitu seterusnya. Iklim yang beraneka, membuat kami terbiasa.

Pernah pada suatu hari teman mengajakku ke sebuah negeri. Negeri yang belum pernah aku kunjungi, selama ini. Sedangkan ia, telah berulangkali menempuhnya. Mungkin dalam imajinasi, pikirku. Karena saat ini kami sedang bersama. Negeri yang asing, bagiku. Negeri yang berisi kehidupan pula. Negeri yang jauh, namun tidak dekat. Negeri yang dekat, namun jauh di mata.

“Negeri apakah itu?,” aku ajukan pertanyaan padanya, sebelum kami berangkat.

Teman tak menyampaikan jawaban atas tanyaku, malah segera menarik tangan ini. Ia membawaku berlari segera, dengan tidak banyak bicara. Ia, dengan ekspresinya yang aku sangat mengerti, pun menurut tanpa banyak komentar. Aku seakan terhipnotis, tak mampu berkata lagi, walau sepatah. Entahlah... aku menjadi tak mengerti.

Kami melangkah bersama, terkadang berlari-lari kecil. Kami menikmati perjalanan yang kami tempuh untuk dapat sampai ke negeri tersebut. Negeri yang bagiku sangat asing, namun untuk dapat sampai ke sana, ternyata pemandangannya indah di sekeliling. Aku sangat menikmati perjalanan yang ternyata tak hanya sehari. Perlu beberapa hari, bahkan tak hanya lima hari. Sudah hampir lima tahun, kami menempuh jalan untuk mencapainya. Namun negeri, masih belum terlihat.

“Adakah masih lama? Atau sudah beberapa saat lagi?,” aku seringkali mengajukan pertanyaan. Apabila aku inginkan untuk bertanya. Namun temanku, pun tidak tahu berapa lama lagi kami bersama untuk dapat sampai di negeri tersebut.

Sekarang, kami pun sedang melangkah. Semenjak suatu hari yang telah berlalu, tentunya. Ai! Hari-hari menempuh perjalanan. Kami pun rela tinggalkan kebun terindah yang kami tanami dengan bunga senyuman.

Selangkah demi selangkah, kami teruskan berjalan. Satu persatu, telapak ini kami pijakkan. Bertemu dengan kerikil di sepanjang perjalanan, ia menyapa lembaran rumput yang gemulai dan lentur. Bertemu dengan semut-semut kecil yang berbaris rapi, pun tanah yang menyatu dengan bumi.

Pada suatu hari, kami membaca kalimat-kalimat yang berbaris rapi di sepanjang perjalanan yang sedang kami tempuhi. Kalimat berisi motivasi, berisi semangat untuk diri. Ya, bagi sesiapa saja yang sedang memberikan perhatian untuk memahami kalimat-kalimat tersebut, maka ia sedang meninggikan semangatnya lagi. Semangat yang perlu terus menerus ia tinggikan setinggi-tingginya. Hingga menggapai mentari yang sedang tersenyum nun di tepi langit timur, pagi ini. Semangat itu, menebarkan senyuman pada sesiapa yang turut mengerti, tentang liku-liku hidup ini. Hidup yang tidak semudah membalikkan telapak tangan, untuk dapat menghayati pesan alam. Sebagaimana pesan yang tersurat dan dapat kita baca dengan suara yang nyaring, pesan tersirat pun dapat kita baca dengan seksama. Walaupun hanya jiwa yang berkata-kata saat melafalkannya tanpa bicara suara.

Bersiaplah diri untuk mendapatkan yang terbaik, maka kebaikan-kebaikan senantiasa menyelingi proses yang sedang kita tempuh untuk merengkuhnya. Lalu, tersenyumlah lebih indah, ketika apa yang selama ini kita harapkan, sedang membentang di hadapan. Berbagilah tentang kebahagiaan lebih sering, agar kebahagiaan yang menembangkan bahagia, semakin bertambah dan berkembang.

Cukuplah mempunyai meski seorang teman yang mengerti dan memahami diri kita, jagalah ia selalu. InsyaAllah, manfaat dan keberkahan menjadikan waktu demi waktu yang sedang kita jalani terasa penuh makna. Meskipun adanya, teman yang seorang tersebut, tiada bersama, di sisi. Namun, kehadirannya dalam ingatan menitipkan banyak pesan untuk kita. Kemudian, bariskanlah ingatan tersebut dalam barisan kalimat terbaik yang dapat kita cipta. Itulah seuntai senyuman untuknya. Hehee, bahagianya tiada terkira, apabila hal yang serupa dapat kita laksana. Sempurna. Sungguh sempurna segala rasa, bersama seorang teman yang sangat berharga.

Semakin kita berusaha untuk mengabadikan persahabatan, semakin banyak jalan yang membentang untuk kita lalui. Apalagi, jalan tersebut bernama jalan ilmu. Jalan yang jejak-jejaknya adalah bunga senyuman. Jalan yang jejak-jejaknya mengubah diri menjadi bait-bait pesan. Jalan yang tidak sembarang orang dapat menempuhnya, kecuali hanya mereka yang inginkan hidup penuh dengan tebaran hikmah.

Bersebaranlah, bergeraklah, lalu petiklah makna dari apa yang kita lihat, kita rasakan, di sepanjang pergerakan tersebut. Kemudian, petiklah beberapa buah nasihat di dalamnya, untuk kita hayati. Setelah itu, rangkailah ia dalam sebuah bingkai berpigura kedamaian. Maka alam akan tersenyum kepada kita. Wahai, indahnya persahabatan di dalam jiwa. Sungguh bermakna memesankan berjuta cita. Cita yang pernah kita ciptakan bersama cinta. Cinta itu sungguh bijaksana. Ia tidak menetes pada sembarang tempat. Namun setiap tempat yang ia tetesi dengan buliran airmata sekalipun, menumbuhkan bibit-bibit senyuman.

Jangan abaikan kehadiran seorang teman, sekalipun kita belum pernah bertemuan.  Perhatikanlah dengan sebenar-benarnya pesan yang sedang ia rangkai, sekalipun kita belum sempat berjabat tangan. Namun, jabatan erat huruf demi huruf yang ia rangkai mendekat hingga membentuk kata, seperti ia sedang menjabat kita erat dengan jiwanya yang murni.

Tuluslah dalam memberi, walaupun hanya sebaris kalimat yang pernah kita baca. Semoga, ketulusan yang beliau [perangkai kalimat pertama] berikan, tersebar hingga ke setiap hati di negeri lain, yang membacanya pula. Sungguh, ketulusan tidak dapat kita membeli, karena mahal harganya sungguh tinggi. Namun, ketulusan dapat kita beri dengan percuma tanpa perlu menyusun angka untuk menilainya. Ketulusan yang sampai kepada tujuannya, akan kembali menebar, seiring dengan hasrat diri untuk membagikan. Maka, yakinlah bahwa ketulusan yang sedang kita sampaikan, tepat pada orang yang membutuhkannya.

Jabatlah erat pertemuan, di sana engkau belajar tentang perkenalan. Kenalilah siapa yang engkau temui, maka engkau mengerti arti hidup ini. Karena, tidak mudah untuk bertemu, kalau kita belum mengenali sesiapa yang akan kita temui. Namun, kalau kita sudah mengenal sesiapa yang akan kita temui, tentu lebih mudah untuk melangkah menuju beliau yang ingin menemui kita.

"Akrablah dengan rangkaian kata, maka engkau belajar memahami bahasa. Pahamilah bahasa yang engkau baca, maka engkau dapat memetik makna. Karena merangkai kata yang dapat dibaca, tentu tidak semudah memetik makna. Oleh karena itu, maknailah apa saja yang engkau baca, lalu rangkailah dalam susunan kalimat," begitu penulis mengajarkan, semenjak mula.

Walaupun dari sebaris senyuman yang kita pandang, di sana ada pesan untuk kita tuliskan. Meskipun dari rangkaian kalimat yang kita baca, ada ide yang membibit kalimat. Engkau akan lebih mudah menyita masa dengan merangkai kata, buktikanlah. Karena masa-masa yang ada tidak selamanya, pergunakanlah ia dengan sepenuhnya. Agar, pada suatu waktu engkau dapat menjadikannya sebagai sarana pengingat diri. Engkau ada saat ini, berbekal bahasa yang pernah engkau bersamai sebelumnya.

***

Kami teruskan berjalan, setelah membaca beberapa kalimat yang tersusun di sepanjang perjalanan. Kami pun belajar untuk merangkainya, di sela-sela waktu kami berehat sejenak dari perjalanan. Kami belajar, teruskan belajar. Hingga pagi hari menjelang, siang menerpakan cerahnya mentari, dan malam bercahaya rembulan. Sudah sekian lama kami bersama, untuk mengabadikan kebersamaan.  Pagi ini pun begitu. Kami sedang bergenggaman jemari, saling menguatkan. Karena, cuaca hari ini, sungguh membuat kami perlu saling mengalirkan energi terbaik.

Engkau tahu, teman... bagaimana kondisi alam di negeri tempat kami berada kini. Negeri yang penuh dengan kesejukan, bahkan sungguh menyejukkan. Hingga, kaki-kaki ini seakan tidak dapat melangkah lagi. Ia akan membeku, kalau tidak bergerak. So, melatih pergerakan jemari semenjak awal hari, ini yang kami lakukan. Berolahraga jemari, sebelum mentari mulai meninggi. Karena, setelah saat ini, kami akan melanjutkan langkah-langkah lagi, dengan kaki-kaki yang terkadang kami gunakan untuk berlari.

Sejenak, dari kesibukan jemari semenjak tadi, ku bawa ia berayun segenak, lalu membuka jendela dan tirainya. Subhanallah.... indahnya sinar mentari dari timur, tersenyum pada kami. Mentari pagi, aku sangat suka dengan pemandangan ini. Di tambah lagi, posisinya kini, sungguh strategis. Tepat, saat jendela membuka, sinarnya segera menciumi wajah ini. Sinarnya yang penuh dengan pesan, menerpa, menjalar hingga ke seluruh pori. Hmmmm... alam yang indah sekali. Aku suka.

Pertemuan kami kembali, pagi ini. Teman berkunjung lebih pagi. Setelah untuk beberapa lama, ia berlalu dari pandangan. Yes! Kami kembali bersama, kami kembali bersuka ria. Mentari, adalah sahabat kami yang lain. Mentari yang kami kenali, kami persahabati, dengan sebaik-baiknya. Kami ingin meneladani karakternya yang senang berbagi. 

Tanpa pernah merasa kehilangan sinarnya, mentari terus menerangi. Walaupun tidak selalu di sini, namun ia mempunyai jadwal buat kami. Siang, begini kami menamainya. Ketika siang, kebersamaan kami bersamanya pun berbaur. Sungguh, kesejukan yang sedari tadi menguasai alam, lumer oleh tebasan sinarnya yang kuat dan perkasa. Ai! Mentari yang aku banggakan. Engkau bersamai kami, karena engkau peduli. Dan memang begitu yang semestinya. Karena engkau sedang menjalankan baktimu pada Ilahi, Penciptamu dan Pencipta diri-diri kami.

Alhamdulillaahirabbil’alamiin. Bahagianya bersamamu, mengingatkan kami pada siapa diri ini yang sesungguhnya. Kita sama-sama berada dalam Kuasa-Nya. Kita memang tak mampu melakukan apapun juga, tanpa Pertolongan dari-Nya. Oleh karena itu, kebaikan sebaik apapun yang kita lakukan dan kita menyadarinya, itu semua adalah atas izin dari-Nya. Karena Allah Yang Maha Baik, sungguh baik tanpa batas. Tak seperti kita, yang terkadang berbaik-baik, membaiki, lalu berbuat kebaikan dan merasa kita sudah baik. Astaghfirullaahal’adziim...

Kebaikan yang sesungguhnya, berasal dari Allah. Sedangkan yang belum baik dan menempel pada diri-diri kita, adalah karena kealpaan hamba. Laahaula walaa quwwata illaabillahil’aliyyul’adziim.  

Dengan kembali menyadari siapa diri ini, maka kita kembali mengingat-Nya, lebih sering. Ya Rabb, kekalkanlah kebersamaan kami ini, dengan Kebaikan-Mu yang terus melaju. Abadikan kebersamaan kami, hingga akhir waktu menyampaikan kami pada negeri yang sedang kami tuju.

“Negeri akhirat, ke sana kita sedang melangkah,” jawab temanku. 

Ketika untuk kesekian kalinya, bibir ini mengajukan tanya padanya. Lalu, kami melanjutkan perjalanan.  Oia, sebelumnya, kami bersenyuman, berpandangan, dan mempererat genggaman tangan. Agar, kekuatan yang kami alirkan dapat menjalar pada yang lainnya. Kami merasa kuat dan benar-benar kuat, bersama Allah! Innallaaha ma’ana. []